A Space for Stories to Bloom: Short Story Writing Class at JHS GIS 3 Jogja

Siswa-siswi JHS GIS 3 Jogja berfoto bersama pemateri Kelas Menulis Cerpen

Yogyakarta – Hari masih pagi, tetapi siswa-siswi Junior High Global Islamic School 3 Yogyakarta (JHS GIS 3 Jogja) sudah beramai-ramai memasuki hall sekolah. Tangannya menenteng novel bacaan masing-masing.

Jumat, 30 Januari 2026, kegiatan literasi tidak berlangsung seperti biasanya. Kelas menulis cerita pendek (cerpen) bertema “Write. Create. Share.” akan diselenggarakan pada pukul 07.30–09.00 WIB.

Pengarang bernama Risda Nur Widia, M.Pd. dihadirkan untuk berbagi pengalaman dan ilmu tentang penulisan cerpen, mengajak siswa mendalami proses kelahiran suatu cerita, mulai dari terciptanya ide sampai menjadi sebuah kisah yang hidup dan penuh makna.

Potret ketika pemateri sedang memaparkan materi kepada siswa-siswi JHS
Potret ketika pemateri sedang memaparkan materi kepada siswa-siswi JHS (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Menyelami Cerita, Menuliskan Makna

Sebagai awalan, siswa terlebih dulu membaca novel yang telah dibawanya. Situasi yang semula ramai seketika berubah menjadi hening. Setiap siswa tenggelam dalam keseruan dan emosi dari bacaannya masing-masing.

Bukan hanya membaca, siswa juga dituntut untuk menyelami bacaannya lebih dalam guna memahami isi dan maknanya. Hasil pemaknaan mereka kemudian dituliskan dalam baris-baris kalimat di secarik kertas.

Para guru bertugas memeriksa tulisan siswa kemudian memberi tanda tangan di kertas tersebut. Tanda tangan itu menjadi tanda bahwa proses membaca tidak terbatas pada lembaran-lembaran buku, tetapi berlanjut menjadi pemikiran yang kritis dan kreatif.

Seorang siswa terlihat tengah serius membaca novelnya
Seorang siswa terlihat tengah serius membaca novelnya (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Dari Membaca ke Merangkai Cerita

Kelas membuat cerpen segera dimulai seusai kegiatan membaca buku selesai. Mas Risda, pemateri hari itu, membuka presentasi dan seluruh mata segera tertuju pada layar presentasi. Para siswa larut dalam setiap kata yang diucapkan Mas Risda.

Tidak lengkap rasanya jika teori tidak disertai dengan praktik. Setelah penyampaian materi selesai, siswa ditantang untuk membuat satu paragraf menggunakan satu kata yang diberikan pemateri. Praktik ini, harapannya, bisa melahirkan siswa-siswi dengan jiwa kreatif.

Berikutnya, perwakilan dari siswa laki-laki dan perempuan maju, membaca paragraf ciptaannya di hadapan teman-teman. Tatapan-tatapan yang tak sabar menantikan cerita karangan temannya menjadi ruang tempat keberanian dan kepercayaan diri tumbuh.

Siswa-siswi tampak menyimak penjelasan pemateri dengan penuh perhatian
Siswa-siswi tampak menyimak penjelasan pemateri dengan penuh perhatian (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Kritik dan saran yang membangun diberikan oleh pemateri sebagai umpan balik terhadap karya siswa. Tujuannya agar karya tersebut menjadi semakin matang dan siswa memiliki semangat untuk terus berkarya.

Kelas menulis cerpen ditutup dengan pemberian sertifikat dari sekolah untuk pemateri sebagai wujud apresiasi atas waktu dan ilmu yang telah diberikan. Hari itu, siswa pulang dengan menggenggam ilmu baru seputar kepenulisan. 

Ruang Literasi untuk Tumbuh Bersama

Lewat kegiatan tersebut, kita belajar bahwa setiap siswa itu unik. Pemikiran dan jiwa kreativitas yang beragam membuat karya mereka memiliki warna berbeda. Di balik setiap kata yang mereka tulis, terselip gambaran diri mereka, tentang bagaimana mereka melihat dan merasakan dunia.

Potret seorang siswa sedang menulis dan menuangkan gagasannya dalam cerita
Potret seorang siswa sedang menulis dan menuangkan gagasannya dalam cerita (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Program literasi yang dijalankan secara rutin ini merupakan cerminan dari Pilar Akademik yang dianut GIS 3 Jogja. Aktivitas ini mendorong siswa untuk bisa berpikir kritis dan terbuka terhadap lingkungan sekitar dan dunia yang lebih luas. 

Diharapkan, program ini dapat terus hidup di GIS 3 Jogja sehingga siswa-siswi tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berkarakter. Tak hanya piawai menulis, siswa dibekali agar berani menyuarakan gagasan dan percaya pada potensi diri sendiri. []

 

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *