Yogyakarta – Ada yang berbeda dari siswa Junior High Global Islamic School 3 Yogyakarta (JHS GIS 3 Jogja) pagi itu. Saat itu, tidak ada seragam terlihat di lingkungan JHS. Sejauh mata memandang, yang tampak justru siswa-siswi dalam balutan kostum-kostum unik dan cantik, mulai dari dokter, wanita Jawa, Harry Potter, berbagai karakter princess, sampai ikan hiu.
Warna-warni kostum para siswa menjadi penanda terselenggaranya kegiatan Book Parade 2025. Kegiatan tersebut telah sukses terlaksana pada hari Jumat, 31 Oktober 2025 pukul 07.30–10.00 WIB.
Dengan langkah anggun dan mantap, mereka memasuki Aula JHS. Tangan-tangan mereka menggenggam erat sebuah buku. Ada yang membawa buku lokal, seperti novel Hujan dan Selena karya Tere Liye. Ada juga yang hadir dengan buku karya penulis luar, misalnya Kastel Terpencil di dalam Cermin karya penulis Jepang, Mizuki Tsujimura.

Literasi: Membentuk Karakter Siswa yang Berwawasan Luas
Siswa JHS GIS 3 Jogja dibentuk menjadi pribadi yang mencintai ilmu dan terbuka terhadap pengetahuan baru. Mereka terbiasa melakukan aktivitas literasi dengan membaca buku setiap hari Jumat. Rutinitas tersebut menjadi satu langkah yang baik untuk membangun kebiasaan gemar membaca di kalangan siswa.
Namun, pada dasarnya, literasi memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar membiasakan siswa membaca buku. Aktivitas tersebut berkaitan erat dengan pemahaman siswa terhadap apa yang dibaca.
Melakukan literasi secara rutin bisa membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analisis informasi, dan berbahasa. Selain itu, wawasan siswa bisa semakin luas dan kaya seiring dengan banyaknya buku yang mereka baca. Harapannya, siswa dapat menerapkan keterampilan literasinya dalam kehidupan masa kini dan mendatang.

Book Parade 2025: Dari Lembaran Buku ke Dunia Nyata
Hari Jumat ini, para siswa diberi tantangan baru. Bukan literasi dengan membaca buku seperti biasanya, mereka diminta untuk menceritakan isi buku. Supaya suasana semakin seru dan menyenangkan, para siswa diajak mengekspresikan diri melalui busana dengan mengenakan pakaian menyerupai salah satu karakter buku yang dibaca.
Berbalut kostum pilihannya masing-masing, satu per satu siswa maju untuk memperkenalkan tokoh yang mereka perankan. Tak lupa, mereka memamerkan buku yang dibaca, tempat kisah sang tokoh berasal.
Membahas buku rasanya tidak lengkap jika tidak disertai dengan penyampaian sinopsis dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan antusias dan semangat, para siswa menyampaikan ringkasan kisah dan nilai apa saja yang mereka petik dari buku.
Setelah seluruh siswa menyajikan ceritanya, kegiatan Book Parade 2025 ditutup dengan pentas musik yang ditampilkan oleh siswa JHS itu sendiri. Dengan piawai, mereka memainkan alat-alat musik dan bernyanyi dengan suara merdu.

Mengubah Aktivitas Membaca menjadi Kegiatan yang Asyik
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang mampu mengasah kemampuan berpikir analitis dan kreativitas siswa. Book Parade 2025 menjadi cara baru bagi siswa untuk belajar dengan cara yang menghibur. Melalui kegiatan semacam ini, siswa dapat rehat sejenak dari aktivitas belajar di kelas yang sering kali monoton dan membosankan.
Di samping itu, berbagi cerita di depan umum juga melatih keberanian dan kemampuan public speaking setiap siswa. Kegiatan ini menjelma menjadi media bagi mereka untuk mengekspresikan dan membangun kepercayaan diri, serta belajar menyampaikan peristiwa secara jelas dan menarik.
Book Parade 2025 menjadi wadah bagi GIS 3 Jogja untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sebagai aktualisasi Pilar Akademik GIS. Hal ini menunjukkan kuatnya komitmen GIS 3 Jogja untuk mencetak generasi penerus yang unggul dan terampil. []
Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

