Yogyakarta – Belakangan ini, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerap diguncang gempa bumi. Sebagai orang yang mendiami daerah tersebut, penting bagi siswa-siswi Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja) untuk memahami cara mitigasi bencana terkait.
Junior High (JH) dan Primary GIS 3 Jogja menaruh perhatian pada persoalan ini. Simulasi Evacuation Drill lantas diselenggarakan untuk membiasakan siswa dengan upaya penyelamatan mandiri yang dapat mereka lakukan ketika bencana terjadi. Di hari Senin pagi yang cerah, 9 Februari 2026, simulasi diadakan.
Pelajaran Penting di Balik Raung Sirine
Pada awalnya, semua berjalan normal layaknya hari-hari biasa. Siswa-siswi sedang serius belajar di kelasnya masing-masing, sedangkan siswa kelas 8, dalam balutan seragam olahraga birunya, tengah berolahraga di bawah terik matahari pagi.

Sampai kemudian, tepat pukul 08.30 WIB, suara sirine meraung-raung. Dengungnya terdengar bising di seluruh penjuru sekolah. Seketika, seluruh aktivitas siswa terhenti. Simulasi kesiapsiagaan bencana pun dimulai.
Para guru kelas bertindak cepat. Mereka menginstruksikan siswa untuk tetap tenang sembari menunjukkan upaya-upaya yang dapat dilakukan sebagai tindakan pertama penyelamatan diri dari gempa bumi.
Pertama, mereka diarahkan untuk berlindung di bawah meja demi melindungi kepala, bagian tubuh paling vital yang harus cepat diamankan. Diselingi tawa karena ruang di bawah meja terasa kecil bagi sebagian siswa, mereka tetap mengikuti instruksi dengan tertib.

Beberapa menit berikutnya, lapangan sudah mulai dipenuhi siswa. Siswa-siswi grade 2 dan 4 Primary keluar kelas sembari berceloteh kecil, menciptakan suasana yang sedikit ramai. Sembari berlari, mereka melindungi kepala dengan buku.
Siswa-siswi JHS berkumpul di lapangan tidak lama setelahnya. Berbeda dari adik-adiknya yang menggunakan buku, mereka “memayungi” kepala dengan tas ransel masing-masing. Meski tampak lebih santai—sebab mereka memahami bahwa ini adalah simulasi—, esensi dari simulasi evakuasi ini tetap mereka mengerti.
Di lapangan, seluruh siswa berkelompok dalam kelasnya masing-masing. Perhatian mereka terpusat pada Mr. Syarif, seorang guru JHS, yang berdiri di depan dan memberi instruksi serta eksplanasi lebih lanjut mengenai kegiatan simulasi ini.

“Ikuti instruksi teachers untuk berlindung di bawah meja. Untuk JHS dan Primary kelas 2 dan 4, bisa segera ke lapangan basket sambil melindungi kepala. Kalau melihat ada yang terluka, harap segera melapor,” tutur Mr. Syarif, menegaskan kembali apa saja yang perlu dilakukan ketika gempa bumi terjadi.
Terakhir, Mr. Syarif mengatakan kalau drill atau latihan simulasi gempa bukan hanya dilaksanakan hari ini saja. Menurutnya, esok hari akan ada simulasi lagi, tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Belajar Siaga, Menjaga Sesama
Posisi Provinsi DIY yang rawan terkena bencana menjadikan kegiatan simulasi kebencanaan merupakan satu hal yang krusial untuk diajarkan kepada siswa-siswi di sekolah demi keselamatan mereka.

Bagi GIS 3 Jogja, keselamatan dan keamanan siswa merupakan prioritas. Melalui pelaksanaan Simulasi Evacuation Drill, kepedulian tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar komitmen belaka.
“Semoga kita selalu selamat dan sadar bencana karena kita berada di zona rawan bencana,” ujar Mr. Syarif, menutup simulasi hari ini sebelum mempersilakan siswa-siswi untuk melanjutkan kegiatan masing-masing yang sempat tertunda. []
Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

