Yogyakarta – Sekolah Global Islamic School (GIS) 3 Jogja menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) untuk jenjang Junior High School (JHS) pada Jumat–Sabtu, 15–16 Agustus 2025 di Omahe Simbok, Pentingsari. Dengan tema “Leading Myself, Lead Others: Living The 7 Habits”, kegiatan dua hari ini melibatkan 35 siswa dari kelas VII hingga IX (31 siswa kelas VII, 2 siswa kelas VIII, dan 2 siswa kelas IX) bersama guru pendamping. Kegiatan yang padat agenda ini dirancang bukan sekadar ajang permainan tim, melainkan ruang pelatihan karakter, tanggung jawab, dan keterampilan berpikir kritis bagi remaja.
Kegiatan diawali dengan registrasi dan persiapan, momen administratif yang sesungguhnya menyimpan makna kepemimpinan pertama: tanggung jawab personal. Dari proses pengecekan nama hingga penempelan nama kamar, panitia menekankan pentingnya disiplin administratif sebagai bentuk penghormatan terhadap aturan bersama.
Saat siswa memuat koper dan perlengkapan ke lokasi, guru mengamati dinamika pembagian tugas yaitu aktivitas sederhana ini menjadi kesempatan awal untuk melatih komunikasi, perencanaan, dan kerja sama, fondasi bagi konsep “leading myself” sebelum melangkah memimpin orang lain.

Salah satu rangkaian yang menonjol adalah latihan PBB (Peraturan Baris Berbaris). Di hadapan rekan dan pembina, siswa belajar menepati komando, menjaga ritme, dan menunjukkan sikap rapi, semua ini bagian dari pembentukan disiplin kolektif.
Spiritualitas dan Refleksi: Tadarus, Murojaah, dan Doa Bersama
Kegiatan spiritual menjadi benang merah selama LDKS yakni tadarus, murojaah, doa berjamaah (Subuh, Dhuha, Dzuhur), serta shalat Jumu’ah. Rangkaian ibadah ini berfungsi ganda: menguatkan ikatan rohani antar peserta dan memberi ruang refleksi.
Bagi remaja, latihan spiritual semacam ini membantu menyeimbangkan aspek emosional dan nilai moral ketika mereka mulai diberi peran kepemimpinan. Dalam kerangka “Living The 7 Habits”, aspek spiritual mendukung kebiasaan “sharpen the saw” yakni merawat diri secara holistik untuk tetap efektif memimpin.
Sesi persiapan dan penampilan tiap kelompok menjadi arena penting untuk melatih kemampuan presentasi, pengelolaan waktu, dan kolaborasi kreatif. Dari latihan kecil di kamar hingga panggung pensi (penampilan seni) di sekitar api unggun, siswa berlatih membagi peran menjadi pembicara, penata suara, koreografer serta menemui tantangan teknis dan emosional.

Persiapan kultum dari kelompok-kelompok kecil juga menajamkan kemampuan menyampaikan pesan secara ringkas namun bermakna, melatih keberanian berbicara di depan umum dan empati dalam menyampaikan gagasan.
Api Unggun: Praktik Kepemimpinan di Tengah Suasana Kebersamaan
Puncak malam pertama adalah pensi dan api unggun, sebuah momen yang bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi arena melatih kepemimpinan siswa. Di bawah sorot api, tiap kelompok menampilkan karya terbaiknya, suasana hangat membuat siswa lebih berani mengekspresikan gagasan. Di sinilah siswa diuji: bagaimana menangani kegugupan, memimpin tim saat tekanan meningkat, dan menerima serta memberi apresiasi kepada rekan. Api unggun juga menjadi ruang reflektif siswa berbagi pembelajaran hari itu, merangkai niat untuk hari esok.

Rutinitas Sehari-hari sebagai Wahana Pelatihan Kepemimpinan
Rangkaian keseharian mulai dari kegiatan makan bersama, istirahat, mandi, packing, hingga foto dokumentasi menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum kepemimpinan LDKS. Kegiatan sepele seperti mengatur jadwal makan atau memastikan kebersihan kamar melatih perencanaan prioritas dan tanggung jawab sosial.
Packing dan pemeriksaan kamar sebelum pulang menegaskan aspek stewardship: memulangkan tempat sama atau lebih baik daripada saat datang, bagian dari habit “put first things first” yang diusung tema kegiatan.

Mengapa LDKS Penting bagi Remaja SMP?
Remaja usia SMP (12-15 tahun) berada pada fase transisi: antara bergantung pada orang tua dan mulai mengambil peran sosial yang lebih besar. LDKS menyediakan ruang aman bagi para siswa yang tengah berada di fase ini untuk mencoba mengasah kepemimpinannya, membuat keputusan, dan merasakan konsekuensinya dalam skala kecil.
Melalui kombinasi aktivitas fisik, spiritual, kreatif, dan administratif, program mengasah kompetensi emosional (self-awareness), sosial (communication and teamwork), dan kognitif (planning and problem solving). Terlebih, pembelajaran yang menginternalisasi kerangka “7 Habits” memberi siswa alat konkret untuk membentuk kebiasaan produktif: dari memimpin diri sendiri hingga memimpin orang lain dengan empati.

LDKS JHS GIS 3 Jogja menutup dua hari intens dengan catatan optimis: bukan pengalaman heroik sementara, melainkan benih-benih kepemimpinan yang, bila dirawat, akan tumbuh menjadi kemampuan yang nyata di sekolah dan komunitas.
Kegiatan ini menegaskan satu hal sederhana namun mendasar bahwa memimpin bukan tentang kuasa, melainkan tanggung jawab, keberanian, dan kemampuan merawat orang lain sambil merawat diri sendiri. []
(Ditulis oleh Humas GIS 3 Jogja)