Life Skill Training 2025: JHS GIS 3 Jogja Students Enthusiastically Develop Their Public Speaking Skills

Siswa JHS GIS 3 Jogja bersama Kak Dwi, narasumber life skill training

Yogyakarta – Life Skill Training merupakan kegiatan rutin yang diikuti oleh siswa kelas 7 dan 8 Junior High Global Islamic School 3 Yogyakarta (JHS GIS 3 Jogja). Tahun ini, 91 siswa berpartisipasi dalam training yang mengangkat public speaking sebagai tema utama.

Mengusung topik “Preparing a Generation of Young Speakers Who Can Express Ideas Confidently, Inspiringly, and with Strong Character”, training kali ini menghadirkan Dwi Gayatri M., S.I.Kom. sebagai pembicara. Wanita yang akrab disapa Kak Dwi itu merupakan Head of Swaragama Training Center.

Menyusun Keberanian Berbicara: Mengantar Siswa Memahami Public Speaking

Para siswa datang tepat waktu. Pukul 10.00 WIB, kaki-kaki mereka satu per satu memasuki aula, dengan tangan menggenggam snack konsumsi. Di Aula JHS, mereka duduk mengelompok, bersenda gurau selagi menunggu acara dimulai.

Potret keceriaan siswa saat mengikuti life skill training public speaking
Potret keceriaan siswa saat mengikuti life skill training public speaking (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Sebagai permulaan, Kak Dwi mengajak siswa melakukan ice breaking dengan bermain game ganjil-genap yang mengasah konsentrasi, fokus, dan ketangkasan. Sesi ini memunculkan keceriaan dan keriuhan. Wajah mereka menampilkan ekspresi serius sambil sesekali menertawakan teman maupun dirinya sendiri yang kurang berkonsentrasi.

Game tersebut sekaligus menjadi bridging ke materi utama yang akan disampaikan. Seorang siswa—yang disebut ‘menang’ dalam game—mengatakan, “Untuk memenangkan game itu, telinga harus mendengar, pikiran fokus, dan bersemangat.”

Kak Dwi menyetujui hal tersebut kemudian mengaitkan jawaban itu dengan apa yang perlu dilakukan siswa selama training berlangsung: mendengar, fokus, dan semangat. Cara ini bisa menarik atensi siswa, membuat mereka lebih memusatkan perhatian pada materi.

Siswa bermain game berpasangan untuk meningkatkan konsentrasi
Siswa bermain game berpasangan untuk meningkatkan konsentrasi (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Sebelum melangkah lebih jauh, Kak Dwi melemparkan pertanyaan, “What do you fear about public speaking?”. Melalui pertanyaan itu, siswa merefleksikan ketakutannya masing-masing dalam hal public speaking. Beberapa siswa menjawab mereka kerap takut dan grogi ketika berbicara di depan umum.

Sekilas, pertanyaan tersebut terkesan sederhana. Namun, pertanyaan reflektif semacam itu bisa membuat siswa melihat ke dalam dirinya sendiri. Akhirnya, mereka bisa memahami dan menyadari kekurangan mereka.

Dalam presentasinya, Kak Dwi menjelaskan tentang definisi public speaking, permasalahan yang sering dihadapi, tips agar lebih percaya diri, dan empat hal yang penting untuk dilakukan saat tampil di hadapan publik—EVEG atau Eye contact, Voice, Expression, dan Gesture.

Siswa mempraktikkan cara smiling voice dengan menggigit stik es krim
Siswa mempraktikkan cara smiling voice dengan menggigit stik es krim (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Bukan hanya menjelaskan teori, Kak Dwi juga mendorong setiap siswa untuk mempraktikkan teori tersebut. Para siswa diajak mencoba langsung melalui latihan sederhana yang membuat mereka lebih aktif, terlibat, dan memahami bagaimana konsep itu diterapkan dalam situasi nyata.

Menumbuhkan Suara Siswa melalui Kegiatan Interaktif dan Apresiasi

Untuk menguatkan kemampuan public speaking siswa, Kak Dwi membangun suasana menjadi lebih interaktif. Kak Dwi sering melontarkan pertanyaan agar siswa berani berbicara dan menyampaikan pendapatnya.

Ada juga yang diminta maju, baik untuk berbicara maupun mempraktikkan teori yang telah disampaikan sebelumnya. Metode yang interaktif juga membuat siswa menjadi lebih sering bercakap-cakap dan berinteraksi terhadap sesamanya.

Life skill training public speaking mendorong siswa untuk berani berbicara di depan umum
Life skill training public speaking mendorong siswa untuk berani berbicara di depan umum (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Di sini, siswa tidak perlu takut untuk bersuara sebab Kak Dwi selalu memberi apresiasi kepada mereka yang aktif selama acara. Bingkisan kecil-kecilan berupa snack maupun sekadar ajakan bertepuk tangan akan selalu diberikan setiap kali siswa berani berbicara. Pemberian apresiasi itu dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa. 

Life Skill Training: Mengasah Kompetensi Siswa dan Menghargai Suara Orang Lain 

Penyelenggaraan life skill training secara rutin menunjukkan komitmen GIS 3 Jogja dalam meningkatkan kompetensi siswa-siswinya. Ms. Nisa, selaku Wakil Kepala Sekolah JHS GIS 3 Jogja, mengungkapkan, “Harapannya, acara ini dapat membekali masa depan siswa dengan kecakapan yang relevan.”

Life skill training ini bukan saja pelatihan public speaking, tetapi juga mengajarkan siswa untuk selalu menghormati dan mengapresiasi suara-suara lain yang mungkin berbeda dengan suara mereka. []

 

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *