More Than Just Stories: The Magic of Storytelling Class at JHS GIS 3 Jogja

Siswa-siswi berfoto bersama Kak Awe sebelum menutup sesi Kelas Mendongeng

Yogyakarta – Di hall yang terasa sejuk pagi itu, siswa-siswi Junior High Global Islamic School 3 Yogyakarta (JHS GIS 3 Jogja) berkumpul. Hari ini, Jumat, 27 Februari 2026, pukul 08.00–09.00 WIB, mereka akan mengikuti Kelas Mendongeng.

Kelas Mendongeng merupakan salah satu bentuk pelaksanaan program literasi yang rutin diselenggarakan di JHS. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa serta melatih mereka agar mudah memahami suatu pesan atau konteks.

“The Magic of Sharing in Ramadan” menjadi tema yang diusung pada kesempatan kali ini. Seorang pendongeng anak yang dikenal dengan nama Kak Awe dihadirkan sebagai pengisi acara Kelas Mendongeng.

Siswa JHS GIS 3 Jogja tampak antusias menyimak penampilan Kak Awe dalam Kelas Mendongeng
Siswa JHS GIS 3 Jogja tampak antusias menyimak penampilan Kak Awe dalam Kelas Mendongeng (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Menghidupkan Dongeng di Dalam Kelas

Sejak awal, atmosfer di hall sudah terasa semarak dan penuh keceriaan. Ini tidak terlepas dari kepiawaian Kak Awe dalam bercerita. Beliau bercerita dengan begitu ceria dan senang mengajak siswa berinteraksi, sehingga suasana menjadi lebih hidup.

Kak Awe banyak berinteraksi dengan siswa menggunakan medium nada dan lagu. Selain itu, beliau juga kerap mengajak siswa melakukan gerakan yang menumbuhkan semangat, seperti mengangkat tangan. Pendekatan interaktif itu membuat siswa lebih antusias dan menyimak pemaparan beliau tanpa merasa tegang.

Saat pertengahan kegiatan, Kak Awe memperkenalkan “teman” yang selalu beliau bawa. Raut wajah siswa menjadi semakin cerah, tidak sabar berkenalan dengan sosok “teman” itu, sebuah boneka monyet yang dinamai Yogi.

Potret Kak Awe tengah menggendong Yogi, boneka yang menjadi "teman"-nya dalam setiap dongeng
Potret Kak Awe tengah menggendong Yogi, boneka yang menjadi “teman”-nya dalam setiap dongeng (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Sembari menggendong Yogi, Kak Awe mulai bermain peran dan memainkan dua suara: suaranya sendiri dan suara Yogi. Beliau membangun karakter Yogi sebagai monyet yang playful, jahil, dan ekspresif.

Lewat karakter itu, beliau mengajak siswa untuk menjaga sikap dan tutur kata, menahan diri dari ucapan yang menyinggung atau tidak pantas, serta berani meminta maaf saat terlanjur khilaf.

Tangannya yang sangat terampil menggerakkan boneka dengan luwes. Seketika, Yogi tampak hidup, seolah-olah dia berbicara dan bergerak sendiri. “Itu tadi namanya teknik ventriloquist,” sebut Kak Awe.

Wajah-wajah serius siswa ketika memerhatikan teknik ventriloquist yang dipraktikkan pemateri
Wajah-wajah serius siswa ketika memerhatikan teknik ventriloquist yang dipraktikkan pemateri (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Ventriloquist sendiri merupakan salah satu teknik dalam mendongeng yang dilakukan dengan berbicara tanpa menggerakkan bibir, sehingga boneka peraga akan tampak seperti hidup dan berbicara sendiri. Teknik ini sering dimanfaatkan untuk melakukan edukasi yang menghibur.

Kak Awe mengaplikasikan teknik ventriloquist dalam dongengnya. Dengan boneka yang dibuat hidup dan berkarakter, beliau mendongeng untuk mengedukasi dan menghibur para audiens.

Kehadiran Yogi berhasil merebut atensi siswa, membuat mereka lebih memfokuskan perhatian pada Kak Awe. Setelah dirasa cukup, Kak Awe menanggalkan Yogi dari tubuhnya dan meletakkan boneka monyet tersebut kembali ke dalam tas. 

Momen ketika para siswa mengikuti instruksi Kak Awe untuk mengangkat tangan
Momen ketika para siswa mengikuti instruksi Kak Awe untuk mengangkat tangan (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Sepeninggal Yogi, Kak Awe menyampaikan sebuah dongeng tentang seorang anak bernama Riri yang menghidupkan nilai agama melalui ketaatan dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari, misalnya selalu berdoa, berpamitan dengan mencium tangan saat akan bepergian, dan sedekah.

Lewat dongeng tersebut, beliau mengajarkan adab, seperti mencium tangan yang benar—bukan di kening atau pipi, tapi di hidung—dan doa-doa, misalnya doa sebelum dan setelah tidur. 

Pukul 09.00 WIB, Kelas Mendongeng ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kak Awe, diikuti dengan penyerahan kenang-kenangan dari JHS GIS 3 Jogja yang diwakili oleh Ms. Nadin—selaku PIC program literasi—kepada Kak Awe serta foto bersama.

Kelas Mendongeng mengajak siswa untuk aktif berpartisipasi dan berinteraksi dengan pemateri
Kelas Mendongeng mengajak siswa untuk aktif berpartisipasi dan berinteraksi dengan pemateri (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Cerita sebagai Jalan: Literasi dan Karakter yang Bertumbuh

Kelas Mendongeng menjadi satu kegiatan yang bukan hanya menarik, tetapi juga bermanfaat. Kegiatan ini membantu meningkatkan kemampuan berbahasa, menstimulasi imajinasi dan kreativitas, serta membentuk karakter dan moral siswa.

Nilai dan ajaran agama disampaikan secara tersirat sepanjang kelas. Namun, di saat inilah kemampuan literasi siswa diasah. Siswa diharapkan mampu menangkap makna tentang apa yang coba disampaikan dan ditanamkan oleh Kak Awe.

Program literasi di JHS GIS 3 Jogja adalah wujud penerapan Pilar Akademik yang diusung sekolah. Harapannya, program ini dapat terus berlanjut dalam jangka panjang mengingat manfaatnya bagi kemampuan literasi dan pengembangan karakter siswa. []

 

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *