Yogyakarta – Hari itu, Kamis, 29 Januari 2026, suasana di Aula Junior High Global Islamic School 3 Yogyakarta (JH GIS 3 Jogja) terasa sedikit berbeda. Sebanyak 31 siswa kelas 9 datang bersama orang tuanya, menghadirkan kehangatan dan antusiasme yang perlahan memenuhi aula.
Achievement Motivation Training (AMT) akan segera berlangsung di ruang tersebut pada pukul 07.30–10.55 WIB. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan emosional dari sekolah terhadap siswa kelas 9 yang akan menjalani Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Berbeda dari kegiatan berlabel “motivation” lain yang umumnya menempatkan peserta pada posisi pasif, AMT yang mengangkat tema “Unlock Your Potential, Shape Your Future” ini justru mengajak seluruh peserta untuk bergerak aktif.

Kegiatan AMT dipandu oleh seorang trainer dari Adventure Management bernama Ariaji Prasetya Yudha yang sangat piawai dalam public speaking. Bersama seorang temannya, mereka merancang tiga game untuk dimainkan bersama-sama.
AMT: Ruang Belajar, Tawa, dan Kebersamaan
Selama kegiatan berlangsung, orang tua dan siswa diminta untuk duduk berdampingan atau bekerja sama dalam satu kelompok. Dari kebersamaan itu, tumbuh percakapan, tawa, dan pemahaman yang menguatkan hubungan di antara keduanya.
Trainer membangkitkan semangat di awal dengan ice breaking yang mengajak siswa meneriakkan “pagi”, “ready”, dan “you’ll get the point”. Pekikan dan seruan-seruan segera terdengar memenuhi aula, menunjukkan antusiasme siswa maupun orang tuanya.
Setelah membangkitkan semangat di aula, trainer mengajak seluruh peserta ke lapangan. Di bawah terik sinar matahari pagi itu, mereka bergandengan tangan dan diberi suatu tantangan yang menguji kekompakan, kemampuan problem solving, dan koordinasi.

Dari lapangan, peserta AMT diajak menuju ke aula di lantai 3. Di sana, mereka duduk membentuk lingkaran dan memainkan game pertama. “Body percussion,” kata trainer menyebutkan nama game tersebut.
Game ini membagi orang tua, siswa perempuan, dan siswa laki-laki ke dalam tiga level berbeda. Mereka diajari gerakan menepuk paha dan tepuk tangan dengan irama yang sudah ditentukan oleh trainer.
Untuk game kedua sampai keempat, siswa dibagi ke dalam tiga kelompok, diurutkan berdasarkan nomor presensi di kelas. Orang tua kemudian mengikuti kelompok di mana anaknya berada.

Game kedua dibuat untuk melatih konsentrasi dan fokus siswa dan orang tua. Mereka akan berdiri berhadap-hadapan dan mendengarkan instruksi dari trainer tentang apa yang harus mereka lakukan. Tipuan-tipuan ringan yang dibuat trainer menjadikan suasana semakin seru dan tawa menggema di seisi ruangan.
Keseruan berikutnya datang dari game menyalurkan pesan lewat punggung dan berhitung menggunakan papan angka yang diinjak sambil meneriakan angkanya. Kedua game tersebut mengasah kemampuan komunikasi efektif, kepemimpinan, dan mengatur strategi.
Keceriaan dan kepandaian trainer dalam membangun suasana menjadikan AMT terasa hidup dan seru. Spirit siswa dan orang tua terasa sepanjang acara. Suara tawa dan sorakan memenuhi ruangan setiap kali ada yang berhasil menyelesaikan misi game.

Pelajaran tentang Anak dan Orang Tua
AMT ditutup dengan refleksi. Trainer mengajak seluruh peserta mengambil hikmah dari beragam game yang telah mereka lakukan. Ruangan kembali terasa riuh, jawaban-jawaban memenuhi udara. “Belajar atur strategi”, “kesabaran”, “percaya dengan tim,” seru peserta.
Dalam keempat game itu, terselip makna yang mendalam antara hubungan orang tua dan anak. Seperti yang dikatakan sang trainer, game tersebut mengajarkan agar orang tua memberi kebebasan kepada anak dan tidak terlalu menuntut mereka.
Dengan demikian, AMT bukan sekadar kegiatan motivasi atau bermain game belaka, tetapi juga sarana bagi orang tua untuk semakin mengenal dan memahami anaknya. Besar harapannya, orang tua dan anak dapat bersinergi untuk masa depan.

Langkah Kecil Hari Ini, Mimpi Besar Esok Hari
Siswa-siswi kelas 9 akan segera sampai di ujung perjalanan bangku sekolah menengah pertama. Semangat dan keseriusan dalam belajar harus dijaga lebih kuat, apalagi TKA sudah menanti di depan mata.
JH GIS 3 Jogja berkomitmen untuk selalu membimbing dan menemani siswa-siswinya sampai ke tahap akhir masa pendidikan mereka di jenjang ini. Penyelenggaraan AMT menjadi satu wujud nyata komitmen itu.
Lewat AMT, sekolah ingin menanamkan jiwa kompetitif, kreatif, dan solutif dalam diri siswa. AMT menjadi sarana pembentuk karakter siswa yang tidak kenal menyerah dan mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi dengan caranya sendiri-sendiri.

Lebih jauh lagi, AMT diharapkan bisa membuat siswa berani membuka diri terhadap orang tuanya, tidak lagi malu dan sungkan mengungkapkan impian-impiannya sebab orang tua adalah garda terdepan yang akan mendukung dan mengiringi setiap langkah mereka. []
Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

