Yogyakarta – Siswa grade 7 dan 8 Junior High Global Islamic School 3 Yogyakarta (JHS GIS 3 Jogja) datang ke sekolah membawa tas-tas yang tampaknya besar dan berat hari itu. Berbalut pakaian cokelat ala pramuka, mereka siap mengikuti kegiatan Survival Camp.
Survival Camp merupakan bagian dari kegiatan pramuka di JHS GIS 3 Jogja. Kegiatan yang akan diselenggarakan pada hari Jumat–Sabtu, 24–25 April 2026 ini akan mengajak para siswa melakukan serangkaian aktivitas seru di alam terbuka selama 2 hari 1 malam.
Persiapan yang Matang di Sekolah
Tidak seperti biasanya, pagi itu, siswa JHS yang berbalut seragam pramuka dan membawa tas-tas yang tampak berat mengisi ruang di basemen Primary. Mereka duduk berkelompok sesuai regu untuk melakukan pengecekan peralatan.

Uluran tangan guru turut membantu siswa memeriksa kembali setiap peralatan dan barang yang dibawa, memastikan agar tidak ada yang tertinggal sekaligus mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas peralatannya sendiri-sendiri.
Selesai dengan urusan peralatan, upacara pelepasan lekas dilaksanakan. Momen ini menciptakan nuansa khidmat yang tenang, meredam seluruh keriuhan yang terjadi ketika pengecekan peralatan tadi.
Salat jumat bagi siswa putra dan keputrian serta salat Zuhur bagi siswa putri dilakukan terlebih dulu sebelum mereka menempuh perjalanan ke Bumi Perkemahan Widuri (Buper Widuri), sebagai penanda bahwa ibadah mengawali setiap langkah mereka.

Langkah Awal di Bumi Perkemahan Widuri
Siswa menuruni bus dengan semangat begitu sampai di Buper Widuri. Peralatan-peralatan segera dipilah dan diambil, apel pembukaan segera dilaksanakan, menandakan kegiatan Survival Camp resmi dimulai.
Mereka cepat melangkah ke kavling tenda regu masing-masing setelah apel pembukaan berakhir. Momen mendirikan tenda ini menjadi sarana peningkatan keterampilan dan pengembangan kekompakan tim.
Setelah mendirikan tenda, siswa mengisi tenaga melalui lomba masak dan makan bersama. Kegiatan ini melatih kemandirian karena mereka menyiapkan hidangan sendiri sebelum menyantapnya. Beragam menu, seperti pecel dan nasi goreng, pun berhasil disajikan.

Tempo kegiatan pun melambat, memberi ruang bagi siswa untuk berlatih pentas seni, beribadah, mandi, serta merapikan diri. Meski diberi waktu yang cukup santai sampai salat Isya, siswa tetap berada dalam pengawasan guru.
Sekitar pukul 20.00 WIB, api unggun dinyalakan oleh sepuluh orang siswa yang bertugas membawa obor. Apinya menari-nari, menerangi, dan menghangatkan tubuh di tengah gelap dan dinginnya malam itu.
Pentas seni menjadi agenda penutup yang menghibur dan menyenangkan. Ada yang mempersembahkan penampilan drama musikal, menyanyi, dan senam. Sorak tawa dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan, menjadi wujud apresiasi bagi keberanian dan kreativitas siswa.

Jejak Literasi Alam yang Membentuk Karakter Siswa
Keesokan harinya, siswa bangun dan memulai hari dengan serangkaian ibadah, meliputi salat tahajud, renungan, salat Subuh, dan muhadharah. Setelah itu, mereka membersihkan diri dan menikmati sarapan bersama.
Menu sarapan telah ludes, siswa pun telah bersemangat kembali untuk melanjutkan kegitan dengan Jelajah Alam. Di sini, ada lima pos yang harus dihadapi selama masing-masing maksimal 10 menit.
Pos 1 akan mengasah keterampilan membuat tanda, pos 2 menguji pengetahuan kepramukaan atau PBB, pos 3 melatih siswa dalam membaca peta lapangan dan kompas, pos 4 meningkatkan kemampuan komunikasi lapangan melalui sandi morse, dan pos 5 menantang siswa untuk membuat teknologi tepat guna roket air.

Sebelum menjalankan misi, setiap regu harus menyuarakan yel-yel terlebih dulu. Dengan penuh semangat, mereka meneriakkan yel-yel dan mengerjakan setiap misi. Agenda Jelajah Alam dirancang bukan hanya untuk menguji kemampuan diri siswa, tetapi juga menumbuhkan kerja sama dan kepedulian terhadap alam.
Usai bermain dan belajar dalam sesi Jelajah Alam, siswa mulai membereskan perlengkapan mereka. Tenda-tenda dibongkar, area perkemahan dibersihkan, lalu mereka mengikuti upacara penutupan sebelum kembali ke sekolah.
Lebih dari Perkemahan: Ruang Tumbuh untuk Generasi Muda
JHS GIS 3 Jogja melihat siswanya yang berusia remaja sebagai individu-individu yang sedang berada dalam fase krusial perkembangannya. Pada masa ini, penting untuk menanamkan nilai karakter dan kepribadian yang positif.

Lewat Survival Camp, siswa dilatih untuk menjadi lebih mandiri, mengenal dan mencintai lingkungan alam, meningkatkan kepedulian sosial, membentuk semangat kebersamaan, cinta tanah air, dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah swt..
Beragam aktivitas dan tantangan yang diberikan kepada siswa selama kegiatan berlangsung juga menempa mereka agar tumbuh menjadi generasi emas yang kreatif, tangguh, dan berakhlak mulia.
Jadi, Survival Camp bukan saja kegiatan perkemahan belaka, tetapi cara JHS GIS 3 Jogja untuk membentuk generasi yang berkarakter dan bisa berkontribusi positif kepada lingkungan sekitar di masa mendatang. []

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

